Toward a better future

Just a bit of thoughts, for a better future

Aku merasa begitu kaya

leave a comment »

21Bait-bait ini memberikan sebuah cermin pada diri, menengok tiga dasawarsa nyawa yang diberikan-Nya lekat dalam jasad. Namun tak hendak mencari sesuatu pembeda, hanya sekedar melihat hidup dari sudut yang berbeda.

Aku lahir dari ayah bunda pendidik pamong praja. Bukan rahasia, jika kehidupan pendidik sekolah rakyat saat itu jauh dari makmur. Aku masih ingat bagaimana beras kuning jatah bapak ibu yang biasa kami makan tiap hari. Beras pulen yang putih empuk hanya kami dapat dari tetangga kaya yang punya hajat, atau acara-acara kondangan lain. Bapak yang lahir sebagai anak pelosok gunung, masih 60 km dari kota kecil Trenggalek yang bisa sekolah guru karena ngengreng pakliknya, sudah terbiasa dengan hidup alakadarnya ini. Ibu tak jauh beda, karena darah pendidik ini didapat dari ayahnya, dan hampir semua saudaranya adalah guru SD. Pada zaman Gestapu hingga kelahiran kakak-kakak pada awal 70-an, bagi bapak dan ibu, mengisi perut seharian hanya dengan daun beluntas yang tumbuh di pagar halaman hingga makan bulgur makanan kuda adalah hal biasa. Sifat nrimo ing pandum ini dibarengi dengan gemi nastiti ati-atisehingga sedikit demi sedikit perekonomian keluarga meningkat. Bagi aku si ragil, serasa hampir tidak ada kesulitan berarti dalam masalah keuangan. Tentu aku tidak merasakan bagaimana bapak ibu mensiasatinya dengan gaji pegawai rendahan saat itu. Tapi aku merasa kaya, walaupun jika dipikir membandingkan dengan anak zaman sekarang, mungkin jauh berbeda. Ibu tidak pernah memberikan uang saku selama aku sekolah, tidak ada konsep njajan di sekolah, walau 25 rupiahpun. Prinsip ibu, sarapan kenyang di rumah, menahan tidak njajan selama di sekolah, dan baru makan siang ketika pulang di rumah. Sederhana. Dan itu berhasil, Aku tidak pernah merasa iri melihat teman-teman membelanjakan uang saku untuk beli heci 25 rupiah atau limun 5 rupiah, apalagi terngiang-ngiang pesan ibu bahwa jajanan diluar itu berbahaya bagi kesehatan. Kalo ada teman yang minum Carprisone atau Campina, hanya bisa melihat dan bertanya-tanya bagaimana rasanya ya..??

Bagaimana dengan mainan? Gampang. Kelereng, kartu bergambar, karet gelang hanya aku dapat dengan ikut main dengan modal punya teman, menang, sehingga aku memiliki sendiri. Yang lain hanya bermodal tanah liat untuk dhempu, atau batu kali untuk dhampar, ranting pohon untuk enthik, atau terkadang ikut teman-teman perempuan untuk ikut cakarwok atau pasaran. Lebih jauh lagi, dhelikan atau gobak sodor tidak perlu modal apapun. Bandingkan dengan anak zaman sekarang, mobil remote kontrol seharga setengah gaji dosen golongan III atau Wii yang harganya wow! Buku sekolah tak pernah beli, cukup dipinjamkan bapak di perpustakaan, memakai buku-buku paket yang cukup lengkap. Tidak perlu beli dari penerbit-penerbit swasta yang harganya selangit seperti saat ini. Untuk peningkatan kemampuan akademik, tidak perlu les atau bimbel kesana kemari, hanya belajar dari soal-soal ujian yang lama yang dibawa Bapak dari sekolah. Sementara banyak anak-anak yang les tambahan pada bapak ibu, tapi les saat itu tidak berbayar alias gratis. Bahkan tidak jarang dulu bapak membonceng muridnya memakai sepeda untuk lomba atau mencarikan buku di kota kecamatan. Kalo sekarang, semua les tambahan mahal nian ongkosnya. Mungkin himpitan hidup dengan kehidupan sekarang membuat guru-guru harus membanting tulang mencari penghasilan tambahan. Makanan sehari-hari yang dimasak ibu selalu istimewa dimataku, sayur bayam bening, tambah tempe goreng dan sambal tomat..wuah nikmat. Kadangkala ada ayam goreng, walo satu paha untuk beberapa kali makan. Makanan favoritku hingga kini adalah yang berbasis tempe, khususnya tempe bosok yang dibuat sambel tumpang atau mendhol.

SD tamat, termasuk lulusan terbaik, masuk SMP, lalu lulus dengan NEM tertinggi se kecamatan, kemudian masuk SMA. Semua sekolah negeri yang biaya SPP-nya tidak mahal, tidak ada ekskul macam-macam yang mahal-mahal, atau biaya-biaya aneh-aneh lain. Lulus SMA, belum lagi hasil ebtanas keluar, sudah keluar hasil PMDK. Ketika teman-teman sibuk persiapan UMPTN, aku sudah berangkat meninggalkan kota kelahiran tercinta dan meninggalkan bapak ibu berdua, dan hari pertama masuk kampus adalah hari ketika banyak teman-teman mengerjakan UMPTNnya. Dengan kesederhanaan hidup, aku merasakan begitu mudahnya hidup. Tak putus-putus mensyukuri nikmat-Nya, walo terkadang bertanya-tanya pada-Nya…Ya Allah, kenapa begitu mudah. Terbetik dalam hati..Ya Allah, jangan berikan kesulitan diakhir nanti, selalu berikan kemudahan. Masih ingat ketika hari terakhir masuk kelas di SMA, kami teman-teman sekelas saling memberikan alamat rumah masing-masing dan pesan-pesan. Banyak diantara teman-teman yang tidak melanjutkan kuliah, bukan karena tidak mampu secara akademis, namun tidak mampu secara ekonomi. Aku tahu kemampuan akademis mereka, mampu untuk kuliah hingga pasca sarjana sekalipun, namun hasrat itu hanya tinggal mimpi. Sedih sekali hati ini, dan kembali lagi aku merasa begitu kaya.

Di bangku kuliah juga tak jauh beda, walo tak banyak, uang kiriman dari bapak selalu mengucur. Berbekal lauk tempe favoritku, hampir tiap hari, dan hampir selalu menolak ayam, uang kiriman itu selalu sisa. Justru selalu habis kalo aku mengunjungi toko buku. Tak heran jika selepas wisuda, aku butuh 5 kardus ukuran besar, setara dengan kardus pembungkus rokok kretek, untuk mengirimkan buku-buku koleksi dari Bogor ke Jawa. Biar irit, paket KA menjadi pilihan. Selama kuliah, sering membantu teman-teman yang bertahan kuliah dengan jualan pisang, jualan kripik, jualan ayam potong dsb.nya. Bukan membantu dengan memberi uang, bukan. Uang siapa yang mau dikasih. Tapi membantu jualan, dan ini kembali memberikan penegasan lagi dalam hati, aku begitu kaya.

Lulus kuliah, berat hati meninggalkan kota hujan. Nyantri menjadi pilihan. Bukan masuk pondok modern dengan fasilitas wah, hanya pesantren kecil untuk anak tak mampu dan yatim. Kami hanya tinggal di ruangan kelas yang disulap jadi kamar tidur. Setiap pagi sarapan nasi sepiring, dengan lauk wajib 2 buah bala-bala kecil, ditemani garam dan cabe rawit segar. Makan siang lebih mewah, nasi dengan sayur toge yang banyak kuahnya, dan oseng-oseng teri yang luar biasa kerasnya. Makan malam tak jauh beda dengan makan siang, hanya sang teri masih berenang di laut, sehingga tahu goreng yang menjadi penggantinya. Hidangan supermewah hanya di Jumat siang ketika terhidang kari ayam, dengan jatah satu orang satu potong kecil. Karena kami berbeda dengan anak-anak usia SMP SMA yang tinggal di pondok dengan gratis, kami masih wajib bayar uang makan dan listrik. Karena uang kiriman dari rumah sudah terputus sejak kelulusan, maka tawaran dari Ustad untuk menjadi guru langsung Aku terima. Kalo saja dosen pembimbingku melihat kenyataan ini pasti marah, atau minimal malu, karena anak bimbingnya yang telah diajari berbagai ilmu teknik ini mengajar bahasa Indonesia untuk anak-anak SMU yang tidak mampu ini. Namun hal ini masih saja membuatku semakin mensyukuri hidup, dengan kenyataan bahwa murid-muridku yang yatim dan dhuafa ini pintar-pintar. Begitu suka mereka mendapat tugas menulis diary. Lewat jam-jam pelajaran juga tidak sekedar mengajarkan majas-majas, namun juga bagaimana menggapai “takdir yang kita semua tidak tahu dibalik rahasia Allah”. Saat ini, ada diantara murid-muridku yang sudah kuliah, sesuatu yang hampir mustahil bagi mereka. Aku tahu betul kondisi keuangan mereka. Bahkan ada murid yang baru datang dari pedalaman NTT, begitu tinggal di pondok malah sakit. Dia sakit karena harus tinggal di pondok, sehingga cukup berjalan 5-10 meter untuk menuju kelas, sementara dulunya dia harus berjalan berkilo-kilo meter untuk menuju sekolah (makanya kisah Lintang dalam laskar pelangi tak terlalu mengejutkanku) . Dia juga tak terbiasa makan nasi, karena makanan favoritnya adalah jagung yang dikeringkan, ketika kucoba makanannya, serasa mau copot gigi ini. Rasa syukur semakin membuncah, ketika salah satu muridku menghubungiku ketika aku di Taiwan, dia masih menapaki kuliah di salah satu sekolah tinggi ekonomi Islam terkemuka di Jakarta, dan baru saja memenangkan juara satu lomba nasional menulis ekonomi syariah nasional yang diadakan Bank Indonesia! Gaji yang aku dapat saat itu lumayan besar, 15 ribu perjam, sehingga total jenderal gajiku 135 ribu selama sebulan..alhamdulil lah.

Masih di pondok, dengan berbagai kegiatan ramadhan yang mengasyikkan, tibalah lebaran, dan tentu hal paling membahagiakan adalah….mudik. Perjalanan lebih dari 20 jam, dengan kesulitan mendapatkan tiket pulang, atau berhimpitan dalam lautan manusia dalam kereta ekonomi, terkadang kini menjadi noltalgia yang merindukan. Ada sebuah kabar dari teman, tentang sebuah lowongan di sebuah PTN di Kota Dingin, dengan setengah hati aku kumpulkan lamaran, pada detik terakhir, karena masa pengumpulan telah lewat 20 menit, dan benar..begitu aku masuk ruangan, pintu segera ditutup. Semua ujian kulewati, tidak ada beban berarti, dan…lulus. Tidak ada rencana untuk ini. Justru berat hati meninggalkan murid-murid yang ketika kuangkat tas menuju angkutan umum ditepi sawah pondok kami, masih mengerumuniku, seolah tak mau melepaskan kepergianku. Di sekolah baru, sekolah bagi para mahasiswa, kadang kurindukan suasana itu. Merintih hati ini terkadang melihat para muridku kini datang ke kampus dengan mustang terbaru, sementara teman sejawatku yang telah 20 tahun lebih mengabdi masih menggunakan vespa tuanya untuk mengajar.

Hidup terasa berjalan lancar, ketika banyak orang berkata “kok enak ya kamu”, aku kembali terhenyak. Apakah aku begitu kaya, begitu mudahnya Allah memberikan kehidupan ini bagiku. Apakah benar tidak ada kendala selama kehidupan ini. Aku kira mustahil manusia hidup tanpa kendala. Berjalan kaki jauh selama sekolah, naik sepeda kayuh, tidak ada uang saku, berbagai kesulitan, berbagai kegagalan, hingga meninggalnya Bapak selama studiku, rasanya kok masih lebih banyak kenikmatan yang Allah berikan kepadaku. Namun terkadang bimbang menerpa, serasa rasa yang dirasakan Abdurrahman bin Auf.

Kenapa, aku selalu merasa kaya. Walaupun aku selalu menunggu lama untuk sebuah “identitas kekayaan”. Aku masih ingat ketika menginginkan walkman ketika tingkat satu atau dua, namun baru terbeli ketika gaji pertamaku turun. Sejak HP membanjiri Indonesia sejak tingkat satu atau dua masa kuliah, baru bisa terbeli setelah lulus. Sejak laptop membanjiri Indonesia sejak masih kuliah, sampai sekarang juga tidak terbeli haha…. Ketika gaji pertamaku turun, 600 ribu rupiah, rasanya uang itu banyak sekali, bahkan tak habis untuk kebutuhan selama sebulan. Sampai mengikuti jejak Rasulullah untuk menggenapkan dien di usia 25 tahun, gaji itu hanya naik 200 ribu saja. Aku justru menangis ketika suatu saat disebuah akhir bulan istriku bilang, bahwa dia belanja hari itu dengan uang receh yang kukumpulkan di botol bekas aqua di pojok ruang…karena uang gaji sudah habis sebelum kalender bulan itu berganti. Satu lagi kesyukuran karena aku terbiasa mengumpulkan uang-uang receh kembalian apapun kedalam botol aqua bekas yang kulubangi bagian atasnya. Walaupun bertahun-tahun hidup di rumah kontrakan, menuju kampus dengan honda prima yang sering mogok ketika buru-buru ke kampus, atau memakai baju-baju kemeja lungsuran dari kakak, tapi aku selalu merasa kaya. Entah kenapa, aku sampai terheran dengan kebingungan seorang sahabatku yang baru menyusulku jadi guru bagi mahasiswa ini ketika dia menerima gaji pertamanya. Gaji pertamanya itu masih sedikit lebih besar dari gaji pertamaku, tapi itu hanya seperempat gaji bulanannya yang selalu menipis di akhir bulan ketika menjadi supervisor di sebuah perusahaan perikanan di utara Surabaya. Aku heran, apa yang salah dengan gaji itu. Selalu, lagi-lagi aku merasa kaya.

Saudaraku, adakah yang salah dari perasaanku ini???

//

Written by pakne muhammad

June 5, 2009 at 11:38 AM

Leave a Reply