Senjakalanya Budaya Baca, Memupus Terbitnya Tradisi Tulis
“Reading make a full man, conference a ready man, and writing an exact man”
(Francis Bacon, 1561-1626)
“A writer is not so much someone who has something to say as he is some one who has found a process that will bring about new things he would not have thought of if he had not started to say them”
(William Stafford, writing The Australian Crawl)
Perguruan tinggi dan mahasiswa adalah dua elemen yang tak terpisahkan. Keduanya merupakan subyek yang mempunyai peran strategis untuk suatu perubahan dan perbaikan. Slamet Sutrisno (1996) menyebutkan bahwa perguruan tinggi, sebagai komponen baku dalam sistem pendidikan tinggi , harus menjadi tempat semaian pikiran dan gagasan baru. Sementara itu Babari (1996) memandang mahasiswa sebagai calon tenaga ahli yang harus disiapkan dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi kekuatan penalaran yang bertindak atas dasar kemampuan berpikir analitis dan sintetis. Mahasiswa sebagai manusia penganalisa bukan semata-mata pemburu ijazah namun penghasil gagasan atau ide yang disajikan dalam bentuk pemikiran yang teratur, sistematis, mendalam dan benar. Dengan cara pandang semacam ini, mahasiswa akan menjadikan dirinya sebagai salah satu komponen kemasyarakatan yang menentukan karena memiliki kekuatan penalaran dan kemampuan pemikiran individual.
Pemikiran dan analisis, itulah yang menjadi kata kunci bagi perguruan tinggi dan mahasiswa. Kemampuan pemikiran dan analisis seorang mahasiswa menjadi prasyarat utama dibandingkan dengan teorema-definitif bidang keilmuannya sendiri. Bahkan, matang tidaknya seorang mahasiswa tergantung dari proses berpikir dan analisisnya. Tentunya kedua hal tadi harus senantiasa dibangkitkan dan digali sendiri oleh seorang mahasiswa. J. Drost (1996) mengatakan bahwa salah satu penentu kematangan seorang mahasiswa adalah penguasaan bahasa, khususnya bahasa Indonesia, yang dipakai saat bertutur maupun saat menulis. Tata bahasa dan ejaan harus dikuasai secara mutlak. Logika bahasa mencirikan cara berkomunikasi seorang mahasiswa. Sekali lagi, bernalar dan bertutur diperoleh dan dibentuk terutama lewat matematika dan bahasa. Matematika mengajar cara bernalar logis, sedangkan bahasa menunjang dan memperluasnya. Seorang baru bisa bernalar dan bertutur secara dewasa kalau ia menguasai ortografi, gramatika dan sintaksis bahasanya sendiri.
Kemudian, pemikiran dan analisis, yang didukung oleh penguasaan terhadap bahasa, tidak akan bisa diasah tanpa bahan baku yang tepat. Bahan baku yang dimaksud tidak lain adalah pre-information yang diperoleh dari sumbenya, yaitu kumpulan naskah dan buku-buku. Melalui buku, dipasok bahan baku yang dibutuhkan dalam proses penajaman pemikiran dan analisis. Dengan buku, proses transfer ide dan informasi menjadi lapang, sehingga terbentuklah suatu aliran pemikiran dan analisis yang laminar dari satu tempat ke tempat lain, dari satu generasi awal ke generasi berikutnya. Joseph Addison, seorang penyair dan sastrawan Jerman, berkata bahwa buku adalah harta karun yang ditinggalkan oleh para jenius besar bagi umat manusia, yang diwariskan dari generasi ke generasi, sebagai hadiah bagi mereka yang belum terlahirkan.
Baca-Tulis, Perintah Suci dan Peradaban Agung
Ketika Nabi Adam moyang manusia diciptakan, Allah mengajarkannya nama-nama benda seluruhnya. Inilah proses pembacaan dan pembelajaran alam semesta yang pertama kalinya. Dari proses pembacaan itu, Adam mampu memahami esensi alam dan kemudian mampulah ia menuturkan pengetahuannya itu pada penghuni surga lainnya. Sulaiman, raja diraja dan utusan Allah lainnya, diberikan kemampuan membaca alam secara luar biasa, sehingga terjadilah dialog yang monumental antara dia dengan semut dan burung, yang tidak akan pernah terbaca oleh manusia lain. Selanjutnya Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran adalah kalimat suci yang harus dibaca dan dijalankan oleh umat yang menerimanya. Bahkan, wahyu yang diterima Muhammad bin Abdullah, utusan terakhir, adalah mengenai Iqro’ dan Alladzi allama bil qolam, yang tidak lain tentang perintah Allah yang pertama-tama, yaitu membaca dan menulis.
Peradaban-peradaban besar yang pernah ada di permukaan bumi, hampir pasti memiliki kemampuan komunikasi non verbal yang luar biasa pada jamannya. Artefak-artefak yang ditemukan di kota tua peninggalan wangsa Dravida, jejak-jejak jaman Babilonia-Mesopotamia, hyrogliph-nya bangsa Mesir Kuno, sampai relief-relief candi di Indonesia adalah bukti kemampuan peradaban-peradaban lama dalam usahanya menuangkan hasil pemikirannya, walaupun dengan cara yang sederhana. Fuad Hasan (2001) menyatakan bahwa di Mesir, terdapat patung berbentuk seorang yang duduk sambil memangku buku. Patung ini menggambarkan seorang yang sehari-hari bekerja sebagai pencatat berbagai peristiwa kemasyarakatan yang penting. Patung Sang Penulis (The Scriber) ini menunjukkan bahwa merekam secara tulisan sudah dikembangkan ribuan tahun lalu. Tradisi tulisan ini mulai berkembang sejak ditemukannya aneka bentuk huruf atau lambing yang dapat dirangkai sebagai kata atau cerita. Pendeknya tradisi tulis sudah dimulai jauh sebelum orang mengenal tulisan yang dihimpun sebagai buku.
Ketika kertas dikenal, penulisan dalam gulungan lembaran bertulis (scrolls) mulai berkembang. Berdirilah pula tempat-tempat khusus penyimpanan naskah-naskah itu, yang merupakan cikal bakal perpustakaan, mulai dari Mesir, Timur Tengah, Cordova, Asia Tengah sampai ke Cina. Walaupun begitu, pengguna dan pembacanya masih terbatas pada kalangan tertentu, intelektual, pemikir, pakar dan bangsawan.
Perubahan terbesar adalah ketika tradisi salinan tulisan tangan yang terbatas mulai ditinggalkan, dengan ditemukannya teknik cetak oleh Gutenberg pada abad kelima belas. Mulai saat itulah produksi buku meningkat, diikuti dengan meluasnya pengguna dan pembaca dari masyarakat umum.
Buku, peran dan permasalahanya
Tidak dapat dipungkiri bahwa meluasnya peredaran buku berpengaruh kuat dalam mengubah dan memajukan masyarakat. Edukasi dan informasi yang dibawa oleh buku mampu menggerakkan masyarakat kearah yang lebih baik. Suatu masyarakat yang menginginkan suatu proses kemajuan, harus menjadikan aktivitas membaca sebagai kebutuhan yang utama setelah pangan, sandang dan papan. Ironinya, proses kemajuan yang akan dituju itu tidak didukung oleh budaya dan minat baca yang tinggi oleh kebanyakan masyarakat, termasuk didalamnya mahasiswa.
Persoalan rendahnya minat baca ini sebetulnya merupakan akibat beruntun dari beberapa sebab. Formula yang diajukan Fuad Hasan, mantan Mendikbud kita, kiranya cukup tepat. Dikatakan, pemicu bagi bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pemacu bagi berseminya budaya baca ialah kebiasaan membaca, sedang kebiasaan membaca terpelihara oleh tersedianya bahan bacaan yang baik dan menarik. Nah, disinilah masalahnya.
Menurut laporan Masyarakat Perbukuan Indonesia (MPI), di Indonesia pada tahun 1995 hanya muncul 3500 judul buku, yang diterbitkan maksimal sebanyak 12 juta eksemplar dalam satu tahun. Jumlah ini kalah dengan oplah koran yang mencapai 14 juta sehari. Dari jumlah itu 60% buku pelajaran TK sampai SMU, 15% untuk perguruan tinggi, buku agama 10% dan sisanya 15% buku umum.
Disinyalir, produksi buku Indonesia paling rendah di Asia, jauh tertinggal dari produksi buku Malaysia, yang dengan jumlah penduduk 10% penduduk Indonesia, mampu menerbitkan 11.000 judul setahun. Harian Umum Media Indonesia pada bulan Mei 1996 menyebutkan bahwa jumlah judul buku baru yang diterbitkan di Indonesia hanya 0.0009% dari total penduduk. Artinya, 9 judul buku baru untuk setiap juta penduduk. Sangat jauh dibanding rata-rata negara berkembang (55 per sejuta penduduk) dan seperti semut dibandingkan dengan negara-negara maju (513 per sejuta penduduk). Data tersebut diolahnya dari Buku Statistik Tahunan UNESCO (1993) dan laporan UNDP (1994).
Laporan terbaru, yang disampaikan dalam pernyataan pers Ketua IKAPI bulan Mei 2001, bahwa produksi buku Indonesia menurun sejak krisis ekonomi dari 5500 hingga 6000 judul per tahun menjadi hanya 2500 sampai 3000 judul saja. Bahkan pimpinan perpustakaan nasional menyatakan bahwa dari sekitar 200.000 SD diperkirakan cuma 1% yang memiliki perpustakaan standar, dari sekitar 70.000 SLTP hanya 36%, dari sekitar 14.000 SMU cuma 54% dan dari sekitar 4000 perguruan tinggi hanya 60% yang memiliki perpustakaan standar. Untuk tingkat desa dan kecamatan, dengan sekitar 70.000 desa dan 9000 kecamatan, tak lebih dari 0,5% yang memiliki perpustakaan standar.
Disamping itu, bagi industri penerbitan buku di Indonesia, masih banyak persoalan yang mengemuka. Diantaranya menyangkut faktor mutu (isi maupun penjilidan) dan juga masalah distribusi. Apalagi mulai tahun 1980-an digunakan International Standard Book Number (ISBN). Secara aplikatif, penerapan ISBN berjalan bagus dan didukung oleh para penerbit karena memudahkan identifikasi buku melalui penomoran. Namun, keluhan masih bermunculan seputar mahalnya biaya pembuatannya. Misalnya, kalau suatu penerbit memperoleh tiga digit (berarti 1000 judul), maka diharuskan membayar Rp. 25.000,- kali seribu, atau dua puluh lima juta. Tentunya penerbit tidak mau terbebani biaya itu, sehingga kembali lagi konsumen yang terbebani. Tak urung, harga buku melangit. Belum lagi ditambah tingginya harga kertas dan biaya cetak.
Melonjaknya harga buku, membuat masyarakat semakin berat untuk mengkonsumsinya. Bukan aneh kalau ada penerbit atau pedagang yang melakukan pembajakan terhadap buku-buku yang ada (asli). Di satu sisi, pembajakan membuat buku murah harganya, namun disisi lain, penulis dan penerbit dirugikan dan penulisan buku baru dengan salary yang sesuai semakin langka.
Dengan demikian terbatasnya ketersediaan buku, maka tidak dapat disalahkan jikalau kebiasaan membaca menjadi hal yang langka pula. Tanpa ketersediaan bahan bacaan yang cukup, maka tentu saja semakin sulit untuk menumbuhkan pandangan bahwa membaca adalah suatu kebutuhan. Apalagi marak dan semakin berkembangnya media audio-visual, akan semakin berat pula tantangan yang dihadapi untuk menumbuhkan kebutuhan tersebut. Ironinya, rendahnya minat baca ini tidak hanya melanda anak-anak usia sekolah, namun juga mahasiswa yang harusnya menjadi pemeran dalam pencetus pemikiran dan analisis.
Proses Kreatif Menulis, Diawali Dengan Aktif Membaca
Prisma (Februari 1981) menyebutkan komentar seorang pakar asing William Cummings tentang kondisi mahasiswa Indonesia, “Bahkan mereka yang menamatkan universitas di Indonesia tampaknya terdidik secara minimum, kurang dalam pengetahuan dasar, lemah dalam penguasaan bahasa asing, dan belum mengenal bacaan internasional yang menyangkut pengetahuan mereka. Tambahan pula para lulusan sering tidak memiliki moril dan kualitet yang sebanding dengan pengabdian terhadap masalah-masalah perkembangan nasional yang rumit.”
Kekurangtahuan identik dengan kurangnya input yang dipahami. Kurangnya input lebih sering terjadi akibat rendahnya kebiasaan membaca. Dari sekitar 60% perpustakaan yang layak diseluruh perguruan tinggi di Indonesia, dapat dihitung berapa persen mahasiswa yang pernah berkunjung kesana, berapa persen yang sering datang, berapa persen yang membaca naskah non fiksi, berapa jumlah buku rata-rata yang dibaca mahasiswa selama sebulan, atau berapa persen intensitas mahasiswa memanfaatkan perpustakaan. Hampir pasti angka yang muncul berada pada level rendah.
Fenomena yang lazim terjadi, mahasiswa lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang sifatnya sia-sia. Lebih sering berada di kantin, mereka lebih suka datang ke konser musik, mereka lebih senang jalan-jalan ke mall, atau ngerumpi tanpa arahan yang berarti. Bahkan kalau dilihat di tempat tinggalnya, entah di indekost ataupun asrama mahasiswa, lebih sering didapati koleksi album-album musik dalam bentuk pita kaset atau compact disk, dibandingkan buku-buku. Tentunya hal ini cukup memprihatinkan.
Walaupun tak bisa disalahkan bahwa bisa jadi hal itu adalah bawaan mereka sejak kecil yang tidak terdidik untuk gemar membaca, namun hal ini tidak bisa dijadikan pembenaran. Meski menurut penelitian periode paling formatif bagi manusia untuk dikembangkan kecerdasannya dengan pesat sekali ialah pada usia dibawah lima tahun, namun mestinya usaha pemupukan kesadaran (awareness raising) terhadap kebutuham membaca terus-menerus dilakukan. Hal ini tentu saja melibatkan semua komponen, mulai dari orang tua, keluarga, perguruan tinggi dan juga pemerintah. Kalaupun kebutuhan membaca sudah membaik di kalangan mahasiswa, namun tidak didukung oleh penyediaan bahan pustaka yang baik oleh perguruan tinggi atau tersedianya secara cukup dan murah bahan pustaka dari pemerintah, tentunya hampir mustahil kebutuhan itu akan bisa terpenuhi dengan layak.
Disamping itu, kinerja perguruan tinggi sebagai salah satu pemasok gagasan dan pembangun kemajuan di masyarakat juga harus diperbaiki. Saat ini, peran dan fungsi perguruan tinggi secara eksternal, yang berdampak bagi perubahan budaya masyarakat, tampak kurang berarti dibandingkan misalnya dengan peran politisi ataupun industriawan-bisnisman. Seharusnya, perguruan tinggi sebagai masyarakat ilmiah, harus bisa menjadi lokomotif bagi gerbong kemasyarakatan lainnya. Untuk mencapai hal itu, kapabilitas dosen dan mahasiswa harus dinaikkan, tentunya dengan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai penyangga bangunan ilmu pengetahuan. Dan yang terpenting adalah menjadikan aktivitas membaca sebagai hal yang dominan di kampus-kampus perguruan tinggi sebagai masyarakat ilmiah.
Jika budaya baca ini sudah menjadi suatu kelaziman, maka secara otomatis seorang mahasiswa yang mendapatkan informasi dan pengetahuan melalui aktivitas itu, akan sulit untuk tidak mengungkapkan apa yang dipahaminya kepada orang lain. Rasa keingintahuan yang tinggi akan diimplementasikannya dengan memberi tahu. Proses menerima dan memberi ini akan menjadi suatu kebiasaan yang hebat. Penyampaian itu tentunya akan banyak melibatkan transfer via bahasa tulisan, karena keterbatasan media verbal. Lewat tulisan, kendala ruang dan waktu akan lebih mudah teratasi. Jadi merupakan hal yang erat berkaitan antara budaya baca yang akan mengantarkan pada tradisi tulis yang baik.
Membaca yang baik, menurut Virginia Wolf, pembaca omnivora yang melahap dan memamah ratusan judul buku, seperti dikutip Muhidin (2000), adalah disertai dengan menulis. Dengan menulis seseorang mencoba bereksperimen sendiri dengan bahaya kata-kata dan kesukarannya. Atau menurut Paul Ricoeur, seorang filsuf poststrukrturalis, dengan menulis maka wacana lisan dibuat tidak lagi berubah melalui fiksisasi fisik oleh aksara melainkan pembakuan pikiran dan perasaan secara fisik dalam aksara.
Menulis, sampai saat ini masih dianggap sebagai hal yang sulit. Fenomena ketakutan mahasiswa ketika masuk masa penyusunan skripsi menjadi bukti rendahnya rasa percaya diri mahasiswa untuk sekedar menyusun kata-kata dan kalimat-kalimat. Padahal sebetulnya, menulis diawali dengan hal yang sederhana. Menuliskan apa yang dilihat sehari-hari adalah awal yang baik untuk memulai sebuah tulisan. Menuliskan peristiwa bangun tidur dan suasana pagi, menuliskan kemacetan dan menuliskan aktivitas pedagang asongan, bisa dicoba untuk memulai sebuah tulisan. Masih menurut Muhidin, penulis-penulis besar seringkali menuliskan hal-hal yang kita anggap sepele, namun ”kesepelean” itu yang biasa kita anggap sebagai “ketidakproduktifan” itu seringkali menggemparkan. Ahmad Wahib “hanya” menulis pengalaman religiusnya sehari-hari mencari Tuhan, berpacaran, kuliah dan tentang masyarakat. Namun catatan itu dilarang oleh MUI pada tahun 1984. Karl May, hanya menuliskan fantasinya berpetualang di daerah Wild West yang belum pernah sekalipun dilihatnya, namun ia bisa mengajak pembaca berkuda bersama Winnetou, menghirup udara padang pasir atau berburu beruang grizzli. Atau Pramoedya Ananta Toer yang harus merasakan “kenikmatan” bui karena tulisan-tulisannya.
Ilmuwan-ilmuwan besar semacam Ibnu Sina, menuliskan keahliannya dalam bidang kedokteran yang mengguncang Eropa yang saat itu masih berada pada jaman kegelapan. Ulama-ulama seperti Imam Syafi’i dengan Al Umm-nya, Imam Ghozali dengan Ihya Ulumuddin-nya atau Imam Bukhari dengan Kitab Shahih-nya, banyak dirujuk oleh kaum muslimin sampai saat ini. Politikus dan negarawan besar macam Karl Marx, Max Weber, Thomas Aquinas, Niccolo Machiavelli, sampai Soekarno menuliskan hal-hal yang menggemparkan dunia. Das Capital, Il Principle, sampai Di Bawah Bendera Revolusi mampu mengubah dunia.
Menurut Ignas Kleden, untuk membangun tradisi dan menulis, khususnya pada mahasiswa, harus tertanam wawasan budaya sebagai provokasi awal. Atau lebih tepat, dorongan ideologis harus dipupuk, sehingga bisa memotivasi mahasiswa rela menyendiri untuk membaca, meneliti, dan menuliskan pikiran dan penemuan-penemuan dari penelitian atau perenungan yang mau tak mau terhindar dan tersingkir dari pergaulan sosial dan pertemuan dengan orang untuk sementara waktu.
Penutup
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak hal yang melatarbelakangi rendahnya tradisi tulis di kalangan mahasiswa. Rendahnya budaya baca, yang merupakan derivatif dari langkanya bahan pustaka, mahalnya harga buku, rendahnya kualitas bahan bacaan, dan segala hal permasalahan dalan sistem pendidikan, merupakan hal yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Jika problem itu sudah bisa diatasi, maka pembangunan budaya baca dari diri mahasiswa baru bisa dijalankan secara efektif, sehingga proses kreatif menulispun akan secara langsung mengikuti.
Di luar negeri, pemakaian teknologi internet sebagai sarana membiasakan menulis lewat e-mail bisa ditiru sebagai cara baru yang layak dicobakan di Indonesia. Pemanfaatan perangkat IT ini merupakan ide yang bagus, mengingat semakin familiar-nya mahasiswa dengan media ini. Steve Kraus (1995) dari Bowling Green State University telah melakukan penelitian mengenai hal itu. Setiap mahasiswanya diharuskan untuk saling bercerita lewat class maling list atau listserv. Hasilnya cukup mencengangkan. Aktivitas on-line ini bisa mendongkrak aktivitas menulis mahasiswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa menjadi lancar, dan yang paling penting membuat para mahasiswa semakin percaya diri untuk menulis.
Terakhir, pandangan yang diungkapkan Muhidin menarik untuk disimak oleh para mahaiswa yang masih ‘takut’ menulis, “Jadi untuk menulis diperlukan suatu ketekunan. Dan saya orang yang paling tidak percaya bahwa membaca dan menulis adalah bakat dari sananya. Saya juga tidak percaya bahwa hanya mereka yang belajar di sekolah bahasa dan sastra yang bisa menulis dan membaca dengan baik. Non sense semua asumsi itu. Semua orang bisa, semua sama. Yang berbeda, mungkin, ia rajin dan kamu malas. Ia tekun dan kamu tidak.” Jadi, tinggal siapkan pena, kertas, dan kemauan yang keras. Lalu, mulai.*** (Juara Harapan Lomba Menulis Esai untuk Mahasiswa Tahun 2001 Yayasan Toyota Astra)
Pak Yusuf, saya sangat tersentuh dengan tulisan anda. Saya juga setuju dengan anda, bahwa minat menulis atau membaca adalah sesuatu proses, bukan sebuah bakat dari sononya. Kita berharap dengan tulisan-tulisan seperti ini, semakin banyak orang yang mau memulai menulis, sekaligus meningkatkan minat baca.
Regards
Jannerson Girsang
Peminat Buku-buku Biografi
Jannerson Girsang
May 23, 2009 at 2:59 AM
Betul Pak Jannerson,
Saya banyak mengisi pelatihan-pelatihan menulis dan jurnalistik, namun selalu saja ada keluhan-keluhan tentang sulitnya menulis, dan lagi-lagi kebanyakan mereka “menyalahkan” nature. Menurut saya, minimnya kebiasaan membaca rata-rata orang Indonesia membuat kita tidak memahami masalah dan tidak tahu membahas masalah. Memulai memindahkan tuturan verbal, seperti curhat atau ngobrol, kepada bahasa tulis semacam diary, saya kira adalah latihan yang bagus untuk membentuk nurture skill menulis.
pakne muhammad
June 5, 2009 at 9:51 AM