Toward a better future

Just a bit of thoughts, for a better future

Bencana Dunia Akibat Logika Malthus

with 2 comments

Semakin tinggi jumlah populasi pada suatu waktu, semakin banyak bayi yang dilahirkan dan mengakibatkan jumlah populasi pada generasi selanjutnya makin tinggi.  Pertumbuhan populasi dunia akan semakin cepat mengikuti pertumbuhan eksponensial, sementara daya dukung lingkungan seperti ketersediaan lahan dan air bertambah mengikuti deret aritmatika.  Pada suatu waktu, jumlah populasi akan melebihi ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan. (Thomas Malthus)malthus diagram

Sebuah Esai Yang Menggemparkan Dunia

Revolusi Amerika dan Perancis pada abad ke-18, membawa idealisme bagi orang-orang di Eropa untuk mengangan-angankan utopia-utopia. Mereka mengangankan suatu kondisi kesempurnaan manusia dan akan tibanya surga dunia. Diantara para utopis itu adalah William Godwin dari Inggris dan Marquis de Condorcet dari Perancis.

Godwin percaya, bahwa akan datang masa yang menjadi begitu padat oleh hidup sehingga tidak diperlukan tidur, tidak perlu mati dan kebutuhan perkawinan akan didesak oleh kebutuhan untuk mengemukakan intelek. Disamping itu juga tidak ada lagi penyakit, ketakutan, kesenduan ataupun dendam. Setiap manusia akan mencari kebaikan bersama dengan semangat yang tak dapat dilukiskan. Untuk meniadakan rasa takut, bahwa jumlah manusia jadi terlalu banyak sedangkan makanan tidak akan cukup, Godwin menulis, “bumipun akan tetap menghasilkan cukup untuk menghidupi penghuninya, biarpun manusia berkembang selama berjuta tahun lagi”. Ia berpikir bahkan keberahian berhubungan seks mungkin akan berkurang. Condoret mengusulkan, bahwa keberahian ini bisa dipenuhi dengan tidak mengakibatkan angka kelahiran yang tinggi.

Maraknya pemikiran utopis itulah yang kemudian dijawab oleh seorang pendeta muda dari Yesus College Cambridge, Inggris – Thomas Robert Malthus. Pada tahun 1789, di kala usianya 32 tahun, ia menerbitkan bukunya An Essay on the Principle of Population, sebuah esai tentang prinsip pertumbuhan. Di awal karangannya, Malthus mengemukakan dua pendirian dasar : pertama, bahwa makanan perlu untuk kehidupan manusia, dan kedua, bahwa gairah yang terdapat dalam seks adalah perlu dan keadaannya boleh dikatakan akan tetap seperti keadaan sekarang.

Dengan dasar pendirian tersebut, dengan sangat yakin, Malthus memaparkan postulat-nya yang terkenal :

“………bahwa kekuatan pertumbuhan penduduk nyata sekali lebih besar dari kekuatan dunia untuk menghasilkan nafkah bagi manusia. Jumlah  penduduk jika tidak dikendalikan akan berlipat ganda menurut perbandingan geometri. Jika kita perhatikan angka-angka yang ada mengenai ini maka akan nyata, bahwa kekuatan yang pertama jauh lebih besar dari kekuatan yang kedua.”

Jika diutarakan dengan angka-angka, rumus Malthus akan menunjukkan pertumbuhan jumlah penduduk : 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64 dan seterusnya, sedangkan persediaan makanan: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya.

Dari teorinya itu, lalu Malthus memberikan kesimpulan dan solusinya dengan dua hal utama, pertama pembukaan tanah lebih banyak dan dengan menganjurkan pertanian sebesar-besarnya, kemudian jika cara ini dipandang masih belum efektif dalam mengatasi kerawanan pangan, maka yang kedua adalah dengan pengendalian pertumbuhan penduduk. Pengendalian inilah yang sering disebut Malthus dengan “pengendalian langsung” yang ditujukan kepada “golongan positif” seperti pekerjaan-pekerjaan yang yang tak sehat, kerja yang berat, kemelaratan yang teramat sangat, penyakit, perawatan anak-anak yang tak baik, kota-kota besar, pes, epidemi; serta “golongan preventif”, yaitu pengekangan moral dan adanya cacat jasmani. Kesimpulan inilah yang menggemparkan dunia serta membuat golongan moralis agama dan sosialis radikal mengecam dan memakinya.

Melahirkan Imperialisme dan Kapitalisme

Ide Malthus untuk mengatasi rawan pangan inilah, yang mempengaruhi para pemikir Eropa saat itu, dan mulai memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada para penguasa Eropa dalam menghadapi bencana krisis pangan  yang menghantui mereka. Apalagi setelah Malthus ‘memperbaiki’ kesimpulannya setelah menuai banyak kritik, dengan menerbitkan esainya yang kedua, yang menekankan “pengekangan moral” dan “menaruh keinginan hati untuk kebaikan umat manusia”, kelompok Malthusian dan Neo-Malthusiaan yang mendukungnya semakin kuat.

Pengaruh pemikiran-pemikiran Malthus atas ilmu pengetahuan alam boleh dikatakan sama dengan pengaruhnya atas ilmu-ilmu pengetahuan sosial. Maka, baik Charles Darwin maupun Alfred Russel Wallace mengakui dengan terus terang, bahwa mereka dalam mengembangkan teori “evolusi dengan seleksi alam” harus berterima kasih kepada Malthus. Darwin menulis :

darwinDalam bulan Oktober 1938, yaitu lima belas bulan setelah aku mulai penyelidikan yang sistematis, kebetulan aku, semata karena hiburan, membaca Pertumbuhan Penduduk karangan Malthus. Dan karena diriku telah bersedia untuk menerima perjuangan untuk hidup (suatu ucapan yang dipergunakan oleh Malthus) yang berdasarkan suatu pengamatan yang lama dan terus-menerus dari hewan dan tanaman yang berlaku dimana-mana, maka karangan ini dengan segera meyakinkan aku, bahwa dalam keadaan seperti ini jenis-jenis (variasi) yang serasi akan selamat sedangkan jenis yang tak serasi aakan hancur. Hasil daripada ini adalah juga sebuah teori yang dapat kupakai untuk bekerja.

Begitupun para ekonom dan pemikir peletak dasar kapitalisme, seperti John Maynard Keynes, mengelompokkan pemikiran Malthus bersama-sama dengan Locke, Hume, Adam Smith, Paley, Bentham, Darwin dan Mill. Walhasil, dari sinilah kemudian imperialisme dan kapitalisme global yang menghancurkan dunia mulai digulirkan.

Kerusakan Akibat Kapitalisme

Logika Malthus yang dikembangkan oleh Darwin dan diperkuat oleh para peletak dasar kapitalisme seperti Adam Smith atau John Stuart Mill, membuat bangsa-bangsa Eropa mulai mengadakan “penjelajahan samudera” untuk “menemukan sumber pangan  dan tempat tinggal baru”. Maka lahirlah era imperialisme modern. Ketika metode imperialisme ini dihadang oleh semangat anti-penjajahan dari penduduk setempat di daerah jajahan, pemegang ideologi kapitalisme mulai mengganti metode imperialisme fisik ini dengan “penjajahan gaya baru”. Dari sini muncul suatu teori pembangunan yang diilhami oleh kesimpulan biologis-ekologis, yaitu Teori Ketergantungan. Teori ini menyatakan bahwa “suatu ekosistem yang stabil akan berusaha untuk mempertahankan stabilitas sistemnya dengan menyerap energi dari ekosistem yang lain”. Sehingga, untuk menjadi sebuah sistem yang ‘stabil’, negara-negara barat berusaha membuat suatu ketergantungan bagi negara-negara berkembang pada diri mereka dalam segala hal.

Tak pelak, petaka kesenjangan ketersediaan pangan melanda dunia. Menurut FAO pada tahun 2002, diperkirakan 815 juta penduduk di dunia menghadapi kelaparan dan kekurangan pangan kronis. Di antaranya, 777 juta penduduk bermukim pada apa yang disebut sebagai negara berkembang. Satu manusia meninggal setiap empat detik sebagai akibat langsung ataupun tidak langsung dari kekurangan pangan. Limapuluh lima persen dari 12 juta anak-anak yang meninggal setiap tahun diakibatkan oleh kekurang pangan. Dalam lingkup kelaparan kronis di dunia, bayangan akan kekurangan pangan massal di daerah Sahara Afrika, di mana 12.8 juta orang di enam negara menghadapi risiko kematian dari kekurangan pangan karena busung-lapar, kekeringan dan kebanjiran. Terdapatnya konsentrasi jutaan penderita AIDS di daerah perdalaman negara-negara tersebut mengganggu pertanian dan memperburuk kekurangan pangan.

Pertemuan KTT Pangan FAO yang terakhir diselenggarakan pada tahun 1996, dan diakhiri dengan suatu pernyataan untuk menyeparuhi kelaparan di dunia pada tahun 2015. Kini, sepertiga jalan menuju tahun 2015, angka-angka resmi menunjukan hampir tidak ada kemajuan yang telah tercapai. Beberapa pejabat menyatakan bahwa dengan tercatatnya penurunan jumlah manusia yang menderita kekurangan pangan dan kelaparan sebesar enam juta jiwa pertahun dalam enam tahun yang lalu, mencerminkan suatu kemajuan. Angka ini harus meningkat ke 22 juta jiwa pertahun, bila target tujuan awal FAO ingin terpenuhi. Dengan keadaan seperti kini, pada tahun 2015, 122 juta manusia akan meninggal dari kelaparan dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengannya.

Pada sebagian besar dunia, termasuk lebih dari dua pertiga dari negara Dunia Ketiga, data FAO menunjukkan akan peningkatan dari kelaparan dalam dekade terakhir. Kekurangan pangan telah meningkat di Congo, India, Tanzania, Korea Utara, Bangladesh, Afghanistan, Venezuela, Kenya dan Iraq. Bila Cina tidak diperhitungkan, kekurangan pangan di dunia telah meningkat semenjak 1996. Keadaannya lebih parah di negara-negara seperti Malawi, Swaziland, Zambia, Zimbabwe dan Lesotho, di mana kelaparan bagi jutaan manusia adalah sebuah kepastian. Di Zambia, contohnya, ada sekitar 2,3 juta manusia yang membutuhkan bantuan pangan antara kini sampai dengan Maret 2003. Sebuah laporan FAO menyatakan “sudah tampak semua dasar tanda-tanda tekanan sosial” di negara ini. “Para penduduk mengambil langkah-langkah drastis, termasuk memakan makanan liar yang berpotensi beracun, mencuri hasil panen dan pelacuran, untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.” Di Malawi, lebih dari 70 persen penduduknya tidak dapat memperoleh cukup pangan.

Sementara itu eksploitasi sumberdaya alam mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah diberbagai belahan dunia. Kerusakan dan degradasi lingkungan yang biasanya terjadi misalnya terbentuknya lahan kritis, akibat penggunaan lahan secara terus-menerus sebagai lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi banyak orang, terdapat antara lain di Afrika. Keadaan dapat diperburuk jika pengekploitasian lahan tersebut diiringi dengan iklim yang tidak menunjang, seperti banjir, sehingga mengakibatkan perubahan dari lahan produktif menjadi lahan tidak produktif. Di Mozambik, terjadi badai banjir ditahun 2000 dan 2001 diikuti dengan kemarau panjang di tahun 2002. Kemudian berkurangnya luas hutan, akibat pembukaan hutan untuk dimanfaatkan sebagai ladang atau hunian. Ditambah dengan penumpukan sampah akibat kegiatan domestik dan industri.

Sebagai negara kapitalis terbesar saat ini, Amerika Serikat terus-menerus mempertahankan eksistensinya dalam ‘merampok’ dunia. Sambil mempromosikan “perdagangan bebas”, pemerintah Amerika Serikat memberi diri mereka sendiri hak kebebasan untuk melakukan “dumping” hasil pertanian Amerika Serikat di negara-negara termiskin di dunia, meniadakan kesempatan kehidupan akan puluhan bahkan ratusan juta orang di Afrika dan negara-negara lain di dunia.

Kesalahan Logika Malthus

Dengan berbagai kerusakan yang timbul akibat Kapitalisme yang dilahirkan dari postulat Malthus, kita patut untuk memikirkan apakah betul logika yang dipakai oleh Malthus? Betulkah kondisi overload penduduk dunia akan terjadi? Akankah krisis pangan berlangsung?

Populasi dunia tercatat mencapai angka 5,77 miliar pada tahun 1996 dan para ahli memperkirakan jumlah ini akan terus bertambah dan mencapai 6 miliar pada tahun 1999. Katakanlah, setiap orang membutuhkan energi sebesar 3000 kkal perhari, maka setiap harinya diperlukan energi makanan sebesar 18 trilyun kkal. Jika jumlah energi dalam 100 gr beras giling sebesar 178 kkal, jagung giling sebesar 361 kkal, kentang 83 kkal dan tepung terigu 365 kkal, maka sebenarnya, kebutuhan pokok makanan penduduk dunia per hari sebesar 10 juta ton beras giling, atau 4 juta ton jagung giling, atau 25 juta ton kentang, atau  4 juta ton tepung terigu. Jumlah sebesar ini sebenarnya bisa dicapai dengan majunya pertanian dunia saat ini, belum lagi jika terdapat pangan subsitusi dan diversifikasi pangan.

enjoy_capitalismFakta menunjukkan bahwa pangkal dasar dari sebab kelaparan di dunia bukanlah tidak adanya persedian pangan. Kekurangan pangan terjadi bersamaan dengan berlimpahnya bahan pangan di bawah kapitalisme. Hal ini berlaku baik untuk Amerika Serikat maupun negara-negara termiskin di dunia. Amerika Serikat menghasilkan 40 persen lebih pangan dari pada kebutuhannya, akan tetapi kelaparan sangat meluas dan 26 juta penduduk Amerika Serikat tergantung pada bantuan kupon pangan dari pemerintahnya. India telah mencapai surplus gandum sebanyak 59 juta ton, namun lebih dari setengah anak-anak di India hidup kekurangan pangan.

Hal ini menunjukkan bahwa penyelesaian yang disodorkan oleh kapitalisme dalam mengatasi krisis pangan dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan produksi terus menerus dan pembatasan jumlah penduduk, adalah penyelesaian yang semakin menjerumuskan umat manusia ke dalam kesengsaraan. Padahal, permasalahan utamanya bukanlah dalam masalah produksi, namun adalah permasalahan DISTRIBUSI. Fakta menunjukkan bahwa sesungguhnya cukup tersedia sumberdaya bagi setiap penduduk dunia, hanya saja sebagian besar penduduk negara berkembang tidak memiliki sarana untuk mengakses sumberdaya tersebut.

dinarAllah memberikan jawaban semua itu dalam sebuah kerangka sistem ekonomi Islam yang utuh. Firman-Nya, “Dialah yang menciptakan untuk kalian semua, apa saja yang ada di bumi” (QS. Al Baqarah [2]:29). Politik ekonomi Islam tidak menjadikan pertumbuhan nasional sebagai asasnya dan tidak pula memperbanyak barang dan jasa yang menjamin terwujudnya kemakmuran hidup manusia, namun kemudian membiarkan mereka bebas mendapatkannya dengan semena-mena. Bukan pula untuk mewujudkan keadilan sosial atau sosialisme semu, dimana semua dibagi sama rata tanpa memperhatikan tingkat kebutuhan atau kekayaan.  Namun politik ekonomi Islam bertujuan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer setiap individu, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan, serta terpenuhinya kebutuhan sekunder sebesar kadar kemampuan masing-masing individu. Maka, dasar ekonomi Islam adalah pendistribusian kekayaan, dengan mengatur cara penguasaan kekayaan dari sumbernya, yang kemudian diharapkan darinya akan muncul pertumbuhan ekonomi. Dan permasalahan distribusi ini telah diatur oleh hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan masalah kepemilikan, perolehan harta, pengelolaan harta, pengembangan harta, mata uang, jual beli dan distribusi kekayaan. Dan ingatlah ketika Allah berfirman dalam  Al Quran surat Al Hasyr ayat 7 : “…supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Kehebatan sistem ekonomi ini telah dibuktikan oleh generasi-generasi Islam terdahulu. Wallahu a’lamu bishowab. *** -  (Finalis Lomba Esai Ilmiah Harun Yahya Internasional Representative Indonesia)

Written by pakne muhammad

March 28, 2008 at 2:13 PM

Posted in From a box ideas

Tagged with , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. artikel nya ok mas,, tapi blog nya koq kurang rame ya??

    pame

    November 8, 2008 at 6:38 AM

    • Terima kasih telah berkunjung. Alhamdulillah sekarang sudah diperbaiki. Sebelumnya edisi trial saja, dan karena kesibukan belum sempat menatanya. Bagaimana dengan sekarang?

      pakne muhammad

      June 5, 2009 at 9:54 AM


Leave a Reply